Desa Wisata

Inilah Kisah Tari Ning Nong Kabupaten Semarang

Penari dan penabuh tari anak Ning Nong

KabarMHF- Di dusun Bajangan desa Sambirejo , Kecamatan Bringin, kabupaten Semarang, ada seni tari anak-anak yang bernama tari Ning Nong. Tarian tersebut , sering ditampilkan anak-anak disetiap kesempatan yang ada. Tari Ning Nong, Ning berarti perempuan, dan Nong adalah laki – laki. Oleh sebab itulah, tari Ning Nong, biasanya dimainkan oleh perempuan dan laki-laki. Walaupun arti Ning Nong, masih sanepo yang banyak makna di dalamnya. Tari Ning Nong ini, sesuai dengan gerakan tarian dan musiknya, menggambarkan seorang anak tumbuh dewasa , dengan lika-liku kehidupan yang akan mereka hadapi. Oleh sebab itu diperlukan keselarasan dan gotong royong. Berikut sejarah adanya Tari Ning Nong,

Penari tari Ning Nong

Konon pada jaman dahulu, di dusun Bajangan desa Sambirejo, menjelang malam setelah masa panen raya, selalu terdengar suara Gamelan yang asal suaranya tidak pernah di ketahui. Ketika suara itu di telusuri , ternyata berada di sebuah tempat yang di anggap keramat oleh masyarakat setempat . Tempat itu, berada di tengah hutan yang bernama, Ngasinan. Suatu malam, suara gamelan itu, berbunyi kembali. Bunyinya didengar oleh salah satu anak. Anak tersebut menjadi penasaran dan ingin menghampiri dan melihat siapa yang memainkan gamelan itu. Tapi, keinginan sang anak tersebut, dihalang halangi oleh bapaknya. Apalagi malam itu, hujan turun deras. Untuk menghilangkan rasa kecewa anaknya, sang bapak kemudian memberi janji (nadar-bahasa Jawa red). Janji itu, sang bapak akan mengundang (menanggap) sendiri pemain gamelan, ketika musim panen raya tiba nanti.
Tapi rupanya suara gamelan tersebut, trus mengiang ngiang di telinga sang anak itu. Padahal musim panen raya masih lama tiba. Lalu, anak tersebut mengajak teman-temannya untuk mencoba menirukan suara gamelan itu, dengan mengunakan alat-alat yang ada di sekitar mereka. Alat yang mereka temukan waktu itu, batok kelapa, kentongan bambu dan lesung.
Setelah lama menunggu, akhirnya masa panen raya pun tiba dan hasilnya sangat bagus. Janji atau nadar sang bapak diwujudkan. Orang tua itu, kemudian mengumpulkan warga setempat untuk bermusyawarah menanggap kesenian Tayub. Terjadikah sebuah kesepakatan dan bapak itu mempercayakan ke empat orang di desa tersebut untuk mencari seorang penari dan pemukul gamelan. Tidak menunggu waktu lama, empat orang itu berhasil mendapatkan penari dan pemukul gamelan. Terjadilah pentas tari yang diiringi musik gamelan pada esok harinya. Pementasan itu, berakhir hingga larut malam. Sang anak dan teman-temanhya sangat senang.
Lantaran berakhir hingga larut malam, membuat penari dan pemain gamelan menginap di Watu Krumpul, yang tidak jauh dari dusun itu. Keesokan harinya, mereka kembali melanjutkan perjalanan pulang. Diperjalanan pulang itu, penari dan penabuh gamelan mengamen. Upah yang mereka dapatkan dari mengamen adalah hasil panen masyarakat. Di sela sela istirahatnya, karena capek setelah mengamen, alat musik gamelan tersebut di mainkan oleh anak-anak yang mengerumuni mereka. Melihat antusias anak-anak yang ingin belajar gamelan, akhirnya mereka dilatih oleh para pemain gamelan. Anak-anak menjadi sangat senang dan ingin memiliki gamelan itu. Orang tua yang melihat anaknya sangat senang , akhirnya berinisiatif untuk menukar gamelan itu dengan gabah hasil panen yang di perolehnya. Ada tiga gamelan, masing-masing bende, kenong dan saron (ocre), yang dimiliki oleh anak-anak tersebut, dari hasil menukar gabah. Alat itu, lalu dimainkan oleh anak-anak, dengan cara memukul. Beberapa diantaranya menari, mengikuti irama tersebut. Lantaran bunyi musiknya hanya, ning nong, ning nong, kemudian para orang tua memberi nama Ning Nong. Nama itu, tetap dipakai hingga sekarang.

Reporter: Ulin

Editor: Priyo

Leave a Comment