News

Kisah Dosen Unnes, Yang Pernah Jadi Tukang Sablon

Kendal, KabarMHF.com-Kesempatan belajar ke perguruan tinggi, bahkan sampai ke luar negeri, bukan hanya milik anak orang kaya saja. Anak dari kalangan orang tua yang ekonominya pas-pasan pun, juga bisa menikmatinya. Syaratnya, harus tekun belajar dan disiplin. Hal itu dikatakan oleh Farid Ahmadi (44), dosen teknik informatika Universitas Negeri Semarang, Minggu (24/10/2021). Menurut bapak 1 anak yang tinggal di Pungkuran desa Kutoharjo Kaliwungu Kabupaten Kendal Jawa Tengah tersebut, dirinya bisa sekolah tinggi sampai jenjang S3 di Central Cina Normal University, karena ketekunannya. Sebab,Farid, bukan dari keturunan orang kaya. Sebab bapaknya, Abdul Wahab, hanya sebagai tukang kemasan di rumah, dan ibunya, Imrotun, pedagang kecil di pasar.
“Kami 7 bersaudara dan saya anak yang paling kecil, “ kata Farid.
Farid, mengaku sejak kecil sudah dididik disiplin dan mendiri oleh kedua orang tuanya. Selain itu, juga dididik rasa persaudaraan yang tinggi. Kepada keluarga harus saling menolong, dan dinikmati bersama kalau mendapat rezeki.
“Dulu, kalau bapak mendapat bingkisan dari pengajian atau apa, satu besek kita makan bertujuh. Semua kita nikmati dengan suka hati bersama,” ujar Farid,
Farid, mengaku beruntung dilahirkan oleh seorang ibu yang sabar, dan mempunyai bapak yang disiplin dalam segala hal. Demikian juga, dengan saudara-saudaranya yang bisa saling memberi motivasi.
Tidak mempunyai cita-cita
Tempat Farid belajar , mulai SD hingga SMA, di Kaliwungu. Lulus SMA tahun 1995, ia membuka usaha sablon bersama kakak-kakaknya. Lalu kursus komputer 1 tahun. Setelah selesai kursus, ia melamar menjadi buruh pabrik, yang ada di Kaliwungu.
“Meskipun sudah lulus SMA, saya belum mempunyai cita-cita. Oleh sebab itu, setelah lulus SMA, saya membantu kakak di sablon, sambil kursus komputer dan kemudian kerja di pabrik,” kata Farid.
Setelah mempunyai penghasilan, Farid, kemudian kuliah di Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) Semarang, jurusanSistem Informatika. Baru sampai di semester V, bapaknya meninggal, dan kemudian disusul ibunya. Farid, mengaku sedih.
“Tapi kakak-kakak saya terus memotivasi saya, hingga lulus S1,” akunya.
Lulus S1, Farid, mengajar di salah satu SMP di Kendal. Lalu ia, mengambil S2 teknik Informatika di Udinus, dan lulus tahun 2005. Bermodalkan ijasah S2, Farid, kemudian mencobs melamar CPNS.
“Awalnya, saya melamar CPNS di Undip Semarang, tapj tidak . Kemudian, pada tahu 2008, saya melamar CPNS di Unnes, dan alhamdulillah diterima,” jelas Farid.
Sekitar 4 tahun menjadi dosen di Unnes, kemudian Farid, mendapat bea siswa S3 Information Manajemen di Central Cina Information Wuhan , dari Islamic Development Jedah (IDJ), dan lulus tahun 2015. Farid , mengaku memilih ambil bea siswa siswa S3 di Cina, karena ingin belajar bahasa dan budaya Cina.
“Disamping itu, saya tahun 2018, juga mendapat kesempatan mengajar di . Arab Open Univercity, selama 1 semester, karena program pertukaran dosen,” tambahnya.
Selama mengajar di Arab, Farid, menerapkan sistim belajar di Indonesia. Membaca buku dan menulis. Sebab, di universitas tersebut, aku Farid, cara belajarnya lebih banyak memenfaatkan kemajuan teknologi.
Menulis buku
Farid, mengaku sudah berkali-kali ke luar negeri. Ia ingin sekali membagi pengalamannya tersebut. Selain untuk perpustakaan pribadi, juga untuk berbagi pengalaman yang bisa dijadikan inspirasi bagi pelajar dari kalangan keluarga yang kurang mampu.
“Ada sekitar 14 buku, yang telah kami buat. Mulai dari buku pendidikan, inspiratif, dan pengalaman di luar negeri,” ujarnya.
Farid, selain membuag buku, juga pernah memberi motivasi siswa-siswa SMPN 1 Kaliwungu dan SMAN 1 Kaliwungu. Sekolahan yang pernah ia jadikan tempat belajar. Harapannya, siswa-siswa di SMPN 1 dan SMAN 1 Kaliwungu, rajin belajar, disiplin dan tidak putus asa.
“Setidaknya, mereka mau berusaha seperti saya,” pungkasnya. (Priyo/Fai)

Leave a Comment